Rabu, 26 Maret 2008

Harsya Denny Suryo: Membangun Karir Sebagai Corporate Secretary

Saya berasal dari keluarga diplomat dan orangtua termasuk angkatan 1945. Semenjak kecil saya hidup di berbagai negara ikut orangtua. Setelah lulus SMA, sekitar usia 18 tahun, saya harus hidup mandiri di luar negeri. Meskipun kuliah di luar negeri, di tengah pergaulan masyarakat Barat yang terkenal bebas, tapi alhamdulillah, saya tak terseret pada perkara negatif, seperti minum alkohol atau memakai obat terlarang. Walau nilai rata-rata kuliah tidak terlalu tinggi, namun saya bersyukur dapat menjelajahi belahan bumi Eropa dan Amerika.

Setelah lulus sarjana, saya kembali ke Indonesia, tanah air yang tak terlupakan. Karena ingin langsung untuk berkarya, maka saya mencoba melamar pekerjaan di PriceWaterhousseCoopers (PWC), sebuah perusahaan audit manajemen berkelas dunia. Teman saya yang merekomendasikan untuk masuk ke sana. Saya menyukai tantangan dan senang menghadapi segala resiko. Bila kita mengalami kegagalan, boleh jadi sebagai dampak dari resiko yang diambil, maka itu merupakan guru terbaik dalam hidup ini. Di lain waktu, kita tidak akan mengulangi hal serupa, dan keberhasilan ada di depan mata.


Saya memiliki sejarah karir yang unik, bekerja di beberapa perusahaan dan lini profesi yang berbeda-beda. Setelah empat tahun bekerja di PWC, saya melanjutkan kuliah pascasarjana di luar negeri. Lalu kuliah S-2, saya mendaftar di perusahaan multinasional bidang perbankan. Kemudian saya mulai bekerja sebagai corporate secretary di Surveyor Indonsia, sebuah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bertugas mengurus kepabeaan. Setelah itu saya masuk ke Citibank, dan ke Bank Bumiputra, hingga setahun terakhir ini menjadi corporate secretary di PT Telkom Internasional Tbk.


Beberapa pelajaran bias saya petik dari pekerjaan demi pekerjaan yang saya geluti selama ini. Pertama, kita harus berani mengambil resiko (willing to take risk) demi meraih prestasi yang lebih tinggi. Jangan takut untuk memegang tanggung-jawab yang lebih berat. Bila mengalami kegagalan dalam profesi, itu adalah guru terbaik (failure is the best teacher). Selain itu, kita harus belajar segala pengetahuan baru, mendengarkan informasi yang bermanfaat. Listen, listen, and listen. Pada saat yang sama, kita menghilangkan sikap menegasikan segala sesuatu. Kita harus membangun sikap mental positif.


Jangan pernah berhenti belajar. Learn how to read, write, and speak very well. Juga membangun hubungan dan relasi dengan semua orang yang akan mendukung profesi yang kita jalani. Itulah berbagai pengalaman hidup yang sekarang melekat sebagai tacit knowledge dalam diri saya. Pengetahuan ini didapat dari experiental learning yang dijalani di tengah kesibukan kerja selama ini.


Sekarang, apa yang dimaksud dengan corporate/company secretary? Tugas utamanya adalah menjadi penasehat untuk pihak eksekutif dalam memahami strategi perusahaan dan menjadi juru bicara kepada publik, bila diperintahkan manajemen. Sebelum masuk ke fungsi corporate secretary secara rinci, saya ingin memberi gambaran mengenai apa yang terjadi di pasar tenaga kerja (job market). Persaingan kerja sangat ketat, apalagi di era globalisasi. Untuk dapat diterima di pasar tenaga kerja, kita harus mampu mengidentifikasi keunikan diri sendiri.


Coba kita bertanya kepada diri sendiri untuk mengetahui kekuatan kita yang sesungguhnya (know your strength): a) Are you a creator/inovator?; b) Are you more sensing?; c) Do you like to meet people?; d) Do you like to work by yourself?; e) Are you good at analyzing?; f) Are you good at organizing?; g) Are you good at presenting? Dan, banyak pertanyaan sejenis. Bila jawaban Anda banyak positif, maka Anda punya potensi besar untuk berkembang.


Pertanyaan kedua terkait dengan aturan main yang hendak kita ikuti dalam suatu perusahaan/lembaga (what is our rule): a) Apa kontribusi terbaik Anda pada institusi/perusahaan; b) Bagaimana sikap Anda terhadap pimpinan (making the boss look good); c) Menerapkan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dan PSMC (Planning, Staffing, Managing, Controlling); d) Mengembangkan Situational Leadership (know the level of your subordinate); e) Never get involved with office politics; f) Never think bad about anyone except for the good things; g) Being a master time management.


Dari pengalaman kerja selama ini, saya ingin menekankan pentingnya Disiplin dan Integritas. Saya percaya dalam dunia kerja, kedua hal itulah yang paling vital untuk dilakukan. Selain itu, saya sarankan agar Anda melakukan sesuatu yang benar-benar Anda sukai dan seriuslah dalam bidang itu. Jika kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, maka kita hanya akan membuang-buang waktu saja.


Ada prinsip sederhana untuk membangun karir yang berhasil, yaitu ENJOY: Enthusiasm (berikan perhatian serius pada apa yang Anda kerjakan); Never stop learning (jangan pernah berhenti belajar, belajar di mana saja, di kampus, kantor, rumah, atau lingkungan); Jot down everything (tuliskan semua pengalaman hidup karena catatan tersebut pasti berguna di suatu saat, meski sepintas terlihat tak penting); Observe the world (amati lingkungan sehingga bisa memahami kondisi sekitar), You are you, be yourself! (jangan meniru orang lain, bisa jasi mereka berbeda kondisi dengan diri kita, cukuplah kita jadi diri sendiri).


Saya sarankan agar Anda membaca beberapa buku yang cukup bagus, antara lain: Think and Grow Rich karya Napoleon Hill, Seven Habits of the Highly Effective People karya Stephen R. Covey, Focus karya Brian Tracy, What Color is My Pharachute karya Richard Nelsa Boles, Straight from the Guts karya Jack Welch, The Art of Deals karya Donald Friedman, Blue Ocean Strategy karya W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, dan The World is Flat karya Thomas Friedman.

Saya ingin cerita sedikit soal PT Telkom. Anda bisa lihat websitenya (www.telkom.indonesia.com). Sebagai seorang financial manager yang fokus di bidang analisis dan investasi, saya perlu memeriksa laporan keuangan perusahaan dari segi fundamental. Dengan melihat paparan mengenai ROI, revenue trend, market cap, dan lain-lain, maka saya berasumsi bahwa perusahaan ini memiliki fundamental yang bagus, terutama setelah disebutkan debt to equity-nya sekitar 0.5. Seharusnya perusahaan masih bisa berkembang dengan kemampuan 50% lebih dari kondisi sekarang, jika dilihat dari segi keuangan, bila mampu mengoptimalkan debt to equity itu.

Bangsa Indonesia memerlukan BUMN yang kuat untuk menopang ekonomi negara. Telkom adalah salah satu BUMN yang kuat dalam infrastruktur komunikasi, namun kita harus cepat beradaptasi dengan turbulensi bisnis yang sangat kencang. Semoga ke depan bangsa ini memiliki generasi unggulan yang sanggup memikul beban berat peningkatan kemampuan BUMN sebagai salah satu pilar ekonomi nasional.***

*) Vice President PT Telekomunikasi Indonesia bidang Investor Relations & Corporate Secretary. Disampaikan dalam Dialog Tokoh PPSDMS Regional I Jakarta pada 20 Februari 2008.

**) Disarikan oleh Arif Raharto dan Hudzaifah Hanum, peserta PPSDMS Regional I Jakarta.

1 komentar:

amir_breeze mengatakan...

FYI:

Ada tulisan bagus nih, soal office politics di blog Cantik Selamanya yang setiap Selasa menerbitkan artikel karir.

Yaitu, office politics bisa membunuh kreativitas, kemampuan kerja, bahkan cita-cita para pegawai. Artikel orginal, loh.

Dilengkapi dengan tips gampang dari pengalaman pribadi mengatasi office politics lagi...

Artikel di blog Cantik Selamanya ini bisa dilihat di:

"Be Nice", Pelihara Semangat Kerja (Riset)"

dan artikel pengalaman pribadinya bisa dilihat di:
"Ngobrol (lagi), Ah..."

Di http://www.cantik40s.blogspot.com